Home / PUISI

Selasa, 8 Februari 2022 - 12:22 WIB

Syair Jalaluddin Rumi

Gambar Ilustrasi. By: Canva

Gambar Ilustrasi. By: Canva

Syair Jalaluddin Rumi

Ia berkata, “Siapa itu berada di pintu?”
Aku berkata, “Hamba sahaya Paduka.”
Ia berkata, “Kenapa kau ke mari?”
Aku berkata, “Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti.”
Ia berkata, “Berapa lama kau bisa bertahan?”
Aku berkata, “Sampai ada panggilan.”

Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, “Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan.”
Aku berkata, “Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku.”
Ia berkata, “Saksi tidak sah, matamu juling.”
Aku berkata, “Karena wibawa keadilanMu mataku terbebas dari dosa.”

Oleh: Jalaluddin Rumi

Share :

Baca Juga

Puisi Jalaluddin Rumi Pukulan dari Langit

PUISI

Puisi Jalaluddin Rumi Pukulan dari Langit
Puisi Jalaluddin Rumi Cinta

PUISI

Puisi Jalaluddin Rumi Cinta
Puisi Wiji Thukul Sajak Suara

PUISI

Puisi Wiji Thukul Sajak Suara
Yang Berlabu Seakan Tiada Arti

PUISI

Yang Berlabu Seakan Tiada Arti
Puisi Chairil Anwar Aku

PUISI

Puisi Chairil Anwar Aku
Puisi Wiji Thukul Sajak Bapak Tua

PUISI

Puisi Wiji Thukul Sajak Bapak Tua
Rindu

PUISI

Mungkin Saja Untuk Sebuah Kemungkinan
Mungkinkah Rasa Yang Tersandra

PUISI

Mungkinkah Rasa Yang Tersandra